Pasar Ceruk Perhiasan Kanada   

Pasar ceruk merupakan kelompok konsumen dalam suatu pasar yang memiliki perilaku pembelian dan/atau karakteristik gaya hidup tertentu.[1] Untuk pasar ceruk perhiasan di Kanada, perhiasan yang terbuat dari logam mulia adalah salah satu dari beberapa produk perhiasan yang cocok untuk pasar ini. Pada dasarnya, pasar untuk perhiasan dari logam mulia bergantung pada pembelian guna keperluan acara khusus (seperti pernikahan, pertunangan, ulang tahun, dll.) dan untuk hari libur yang dirayakan secara luas (misalnya: Natal, Valentine, dll.) serta pembelian dari pasar mewah Kanada, yang lebih kecil dibanding pasar untuk perhiasan yang diproduksi secara massal.[2] Penjualan ritel perhiasan secara online—gelombang yang relatif baru di pasar perhiasan global—adalah pasar ceruk lainnya untuk perhiasan di Kanada. Pasar perhiasan, termasuk perhiasan dari logam mulia, tengah menyesuaikan praktik ritelnya guna merespons kenaikan pasar e-commerce tingkat global yang diperkirakan dapat meraup US$ 1,85 triliun tahun ini.[3] Harapan konsumen tidak hanya dapat menemukan perhiasan yang luar biasa, tetapi juga menemukan peritel yang menawarkan pengalaman belanja terbaik,[4] terutama ketika berbelanja barang mewah seperti perhiasan dari logam mulia. Agar mampu memenuhi harapan pelanggan, peritel perhiasan dari logam mulia harus mencari cara untuk membedakan diri dari peritel lain dengan menawarkan fitur unik atau pengalaman yang memberikan nilai tambah dalam berbelanja secara online.[5] Pada intinya, peritel perhiasan online harus menempatkan pengalaman belanja pelanggan di jantung bisnis mereka agar dapat berhasil dalam penjualan ritel online. Pesan serupa juga dimunculkan sebagai hasil dari studi kasus yang dilakukan Business Development Bank of Canada (BDC) pada pengalaman sebuah toko perhiasan Kanada dalam memperluas kehadiran ritelnya dari toko konvensional ke toko online. Toko perhiasan tersebut baru bisa mencatat pertumbuhan bisnis online setelah mulai berfokus pada pengalaman pelanggan di situs webnya, yaitu fokus untuk mengubah pengunjung situs menjadi pelanggan dan meningkatkan upaya pemasaran online yang mengarahkan orang untuk mengunjungi situsnya.[6] Peritel perhiasan Indonesia yang berupaya menembus pasar Kanada mungkin perlu mempertimbangkan untuk memperkenalkan produk mereka melalui platform yang sudah mapan,[7] seperti Shopify, Dexero eCommerce, dan Liki sebagai sejumlah platform e-commerce terkemuka di Kanada.[8] Hal ini akan membantu peritel—baik pendatang baru maupun yang sudah berpengalaman—membangun kepercayaan di industri ini dan memantapkan diri sebagai peritel perhiasan terkemuka di pasar tujuan.[9]
 
Perhiasan berkelanjutan, ramah lingkungan, dan memiliki sumber pengadaan beretika dan bertanggung jawab adalah pasar ceruk lain bagi Kanada. Segmen ini tumbuh seiring meningkatnya kesadaran sosial dan lingkungan konsumen seputar pertambangan batu berharga dan logam mulia. Operasi pertambangan dikenal memiliki risiko lingkungan dan sosial yang signifikan, termasuk deforestasi dan degradasi lahan, hilangnya keanekaragaman hayati, pencemaran tanah, polusi air tanah dan air permukaan oleh bahan kimia (misalnya: sianida, merkuri) yang digunakan dalam proses penambangan, konflik dengan masyarakat sekitar daerah pertambangan, rendahnya pemenuhan hak-hak tenaga kerja dan kondisi kerja yang tidak kondusif, dll.. Perhiasan berkelanjutan adalah istilah yang digunakan secara longgar dan mengacu pada produk perhiasan yang bahan bakunya bersumber atau ditambang dan diproduksi dengan dampak lingkungan dan sosial merugikan seminim mungkin. Tidak ada definisi yang seragam tentang apa yang dianggap berkelanjutan. Hal ini bisa mencakup berbagai klaim lingkungan seperti perhiasan yang terbuat dari emas (atau logam mulia lain) yang didaur ulang, dibuat dengan proses ramah lingkungan (misalnya, intan buatan laboratorium), dan/atau kepatuhan terhadap standar ketenagakerjaan yang diakui secara internasional, termasuk kesetaraan gender.
 
Klaim keberlanjutan sosial dan lingkungan dapat didukung oleh sertifikasi independen pihak ketiga, sebagaimana diuraikan di bagian c) standar sukarela. Namun demikian, karena proses sertifikasi sering kali membutuhkan banyak biaya, perusahaan perhiasan mungkin memilih untuk "menyatakan sendiri" inisiatif keberlanjutan mereka, tanpa diverifikasi oleh badan sertifikasi independen. Penting untuk dicatat bahwa, seperti semua klaim iklan dan label lainnya, klaim kelestarian lingkungan tunduk pada UU Persaingan Usaha serta UU Label dan Kemasan Konsumen Kanada. UU Persaingan Usaha melarang bisnis untuk terlibat dalam praktik pemasaran yang menipu atau menyesatkan. Bisnis hanya diizinkan untuk membuat klaim lingkungan dan sosial yang dapat dibuktikan dan diverifikasi dengan data akurat dan tepercaya. Data ini harus tersedia untuk lembaga penegak hukum apabil diminta di kemudian hari. Canadian Standards Association (CSA) menerbitkan panduan tentang cara membuat klaim lingkungan yang sesuai dengan UU Persaingan Usaha dan UU Label dan Kemasan Konsumen. Panduan tersebut dapat diakses di: http://www.competitionbureau.gc.ca/eic/site/cb-bc.nsf/eng/02701.html
 
Berkaitan dengan kesetaraan gender, pada umumnya perempuan terkonsentrasi di pasar ceruk. Perhiasan produksi skala kecil dan dirancang khusus dianggap merupakan bagian dari Ekonomi Kreatif Indonesia, dan banyak menarik bakat-bakat desainer lokal serta UMKM, termasuk banyak wanita. Meski produk yang unik dapat dijual dengan harga premium di luar negeri, produsen kecil bergelut untuk memproduksi jumlah yang cukup dan memenuhi persyaratan untuk memenuhi standar. Ekonomi kreatif dianggap penting untuk menciptakan lapangan kerja,[10] keseimbangan gender, dan tenaga kerja yang masih muda.[11] Karena itu, Pemerintah Indonesia menetapkan Badan Ekonomi Kreatif dan menargetkan untuk mencapai kontribusi PDB sebesar 12% dari sektor ini serta melibatkan 13 juta pekerja yang berkecimpung di bidang ini pada tahun 2019 nanti.[12]
 

[1] Dawn Thilmany, “Apa Itu Pasar Ceruk? Keunggulan Apa yang Ditawarkan?,” dalam Pasar Ceruk: Penilaian dan Pengembangan Strategi untuk Sektor Pertanian, ed. Margaret Cowee (Tucson: Western Extension Marketing Committee, 2008). http://www.valueaddedag.org/nichemarkets/NicheMarketscompletebook6-17-08.pdf
[2] Trade Facilitation Office of Canada, “Canadian Market for Jewellery and Fashion Accessories,” Export to Canada News, Desember 2015. http://www.tfocanada.ca/global/File/Export_to_Canada_Newsletter_OCT-DEC_2015_EN.pdf (diakses pada 29 November 2016).
[3] Allan Smith, How the Fine Jewelry Industry is Shaping Up in 2016, 7 April 2016. http://www.huffingtonpost.com/allan-smith/how-the-fine-jewelry-industry_b_9626810.html (diakses pada 30 November 2016).
[4] Ibid.
[5] Ibid.
[6] Jane Somerville, “Studi Kasus E-commerce: Posh Jewellery,” Business Development Bank of Canada. https://www.bdc.ca/en/blog/pages/e-commerce-posh-jewelry.aspx (diakses pada 30 November 2016).
[7] Deborah Weinswig, “As Fine Jewelry Moves Online, the Market Sparkles,” Forbes, 14 April 2016. http://www.forbes.com/sites/deborahweinswig/2016/04/14/as-fine-jewelry-moves-online-the-market-sparkles/#29f93ac428eb (diakses pada 30 November 2016).
[8] Business Development Bank of Canada, Perangkat Lunak E-Commerce Gratis dan Murah untuk Bisnis Anda, https://www.bdc.ca/en/articles-tools/technology/free-low-cost-applications/pages/e-commerce-free-low-cost-options.aspx (diakses pada 30 November 2016).
[9] Deborah Weinswig, “As Fine Jewelry Moves Online, the Market Sparkles,” Forbes, 14 April 2016. http://www.forbes.com/sites/deborahweinswig/2016/04/14/as-fine-jewelry-moves-online-the-market-sparkles/#29f93ac428eb (diakses pada 30 November 2016).
[10] Global Business Guide, Manufaktur: Produk Ekonomi Kreatif & Warisan Indonesia—Segudang Peluang, http://www.gbgindonesia.com/en/manufacturing/article/2014/indonesia_s_creative_economy_andamp_heritage_products_a_wealth_of_opportunities.php (diakses pada 19 Desember 2016).
[11] The United Nations Conference on Trade and Development, Laporan Ekonomi Kreatif 2008 (Jenewa: UNCTAD, 2008). www.unctad.org/en/docs/ditc20082cer_en.pdf
[12] Charles Rivkin, “Indonesia to Optimize Intellectual Property Rights to Boost Creative Economy” The Jakarta Post, 4 November 2015. http://www.thejakartapost.com/news/2015/11/04/indonesia-optimize-intellectual-property-rights-boost-creative-economy.html