Standar Sukarela Minyak Sawit Kanada   

Salah satu cara umum yang dapat ditempuh produsen minyak sawit Indonesia untuk meningkatkan daya saing produknya di pasar Kanada adalah memperoleh sertifikat sukarela yang diterima dunia internasional yang mencakup kelestarian lingkungan dan praktik produksi yang bertanggung jawab secara sosial.
Ada beberapa skema sertifikasi sukarela yang memberikan verifikasi dari pihak ketiga bahwa produk terkait berasal dari sumber yang berkelanjutan. Sertifikasi semacam ini dapat bermanfaat baik bagi eksportir Indonesia maupun importir Kanada karena produk yang diperdagangkan menjadi semakin kompetitif di sebagian segmen pasar Kanada. Skema sertifikasi yang diakui dan berlaku secara internasional untuk minyak sawit, antara lain, adalah Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), International Sustainability and Carbon Certification (ISCC), Sustainable Agriculture Network (SAN), Roundtable on Sustainable Biofuels (RSB), dan Global G.A.P.[1]
  • dapat kalangan pembeli di Kanada yang berkepentingan untuk memastikan bahwa langkah-langkah keberlanjutan sukarela diterapkan secara konsisten oleh produsen minyak sawit Indonesia. Berikut adalah sejumlah langkah sukarela umum yang terkait produksi minyak sawit yang berkelanjutan dan proses pengelolaan serta kinerja sosialnya:
  • Sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) ─ RSPO merupakan standar sertifikasi utama untuk minyak sawit dan fraksinya dalam makanan dan oleokimia, meskipun masih terdapat kontroversi karena standar lingkungannya dirasa masih bisa ditingkatkan. RSPO beranggotakan produsen minyak sawit, pengolah, produsen barang konsumen, peritel, bank/investor, serta LSM lingkungan dan sosial yang dilibatkan dalam pengembangan standar yang berlaku.[2] RSPO menyusun dan menerapkan standar keberlanjutan yang dapat diadopsi oleh berbagai pemangku kepentingan dalam rantai pasok global. Organisasi ini menetapkan sendiri prinsip dan kriteria untuk produksi minyak sawit berkelanjutan yang mencerminkan “kegiatan pengelolaan dan operasional yang legal, layak secara ekonomi, ramah lingkungan, dan bermanfaat secara sosial”.[3] Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi situs RSPO.
  • International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) ─ skema sertifikasi ini memberikan jaminan keberlanjutan produk (termasuk keberlanjutan sosial) dan memungkinkan ketertelusuran di seluruh rantai pasok global.[4] Skema ini dapat diterapkan untuk berbagai produk biomassa, termasuk makanan, pakan ternak, dan bahan bakar nabati.[5] ISCC mengumpulkan berbagai pemangku kepentingan dalam rantai pasok biomassa beserta ahli dari berbagai organisasi yang bergerak di bidang sosial dan lingkungan hidup.[6] Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi ISCC.
  • Standar Sustainable Agriculture Network (SAN) ─ SAN mengembangkan standar global yang mencerminkan kelestarian lingkungan dan sosial dalam produksi pertanian dan perkebunan. Beberapa prinsip standar keberlanjutan SAN meliputi manajemen tanaman terpadu, pengelolaan sampah terpadu, perlindungan satwa liar, pelestarian ekosistem, konservasi tanah, kesehatan kerja, hubungan masyarakat, dan kondisi kerja.[7]  Kunjungi tautan berikut untuk informasi lebih lanjut: SAN.
  • Standar Roundtable on Sustainable Biomaterials (RSB) – standar yang dikembangkan RSB ini berupaya mengatasi masalah keberlanjutan utama yang dihadapi operator, pemilik, dan investor yang bertujuan mewujudkan produksi biomaterial dan bahan bakar nabati yang lebih berkelanjutan.[8] RSB mengadakan pertemuan kelompok ahli dan konsultasi publik untuk menyiapkan dan menyesuaikan standarnya secara berkesinambungan.[9] Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi situs RSB.
  • Standar GLOBALG.A.P. ─ standar Good Agricultural Practices (G.A.P.) ini menetapkan langkah-langkah kepatuhan hukum terkait keselamatan dan ketertelusuran makanan; keselamatan dan kesehatan kerja serta kesejahteraan buruh; kesejahteraan satwa, serta pemeliharaan lingkungan dan ekologi.[10] Standar ini mengambil pendekatan holistik dengan memantau rantai produksi secara menyeluruh, mulai dari budidaya dan pemanenan sampai tahap pengolahan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi GlobalG.A.P.
  • Titik Pengendalian Penting Analisis Bahaya (Hazard Analysis Critical Control Point atau “HACCP”) ─ ini adalah sistem manajemen risiko yang mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan bahaya terkait keselamatan makanan dalam seluruh proses produksi makanan.[11]
  • FSSC 22000 Food Safety System ─ skema sertifikasi ini berfokus pada keselamatan produk selama proses pembuatan, yang didasarkan pada ISO 22000 terkait Sistem Manajemen Keselamatan Makanan.[12]
  • Aturan Makanan Aman dan Berkualitas (Safe Quality Food atau "SQF") – program sertifikasi ini berlaku untuk produsen utama, pengolah, distributor, dan pialang yang ingin menerapkan langkah-langkah keselamatan makanan secara sistematis dari tahap produksi hingga produk sampai di tangan konsumen.[13]
Di samping langkah-langkah sukarela yang dikembangkan berbagai organisasi tersebut, International Organization for Standardization (ISO) telah merumuskan sejumlah standar yang dapat diterapkan oleh pemangku kepentingan dalam rantai pasok minyak sawit. Standar itu antara lain:
  • Keluarga ISO 22000 – secara umum, sertifikasi ini ditujukan untuk mengelola keselamatan makanan. Keluarga standar ini memuat pedoman mengenai manajemen keselamatan makanan, kebertelusuran, pembuatan makanan, pertanian, katering, pembuatan kemasan makanan, dan panduan audit serta badan sertifikasi.[14]
  • ISO 9001: 2015 ─ skema sertifikasi ini berfokus pada persyaratan umum sistem manajemen mutu yang akan diterapkan oleh setiap organisasi yang perlu menunjukkan kemampuannya untuk secara konsisten menghasilkan barang dan/atau jasa yang memenuhi kebutuhan pelanggan dan juga persyaratan UU serta peraturan yang berlaku.[15]
  • ISO 14001: 2015 ─ standar ini menetapkan persyaratan bagi setiap organisasi yang berupaya mengelola tanggung jawab lingkungannya secara sistematis.[16]