Standar Sukarela Karet Kanada   

Salah satu cara umum untuk meningkatkan daya saing produk di pasar Kanada adalah agar produsen dan/atau eksportir mengadopsi standar sukarela yang dapat diterima secara global yang menggabungkan kelestarian lingkungan dan praktik produksi yang bertanggung jawab secara sosial. Mengupayakan agar produk memperoleh sertifikasi dapat memberikan manfaat bagi eksportir Indonesia dan importir Kanada karena produknya bisa lebih kompetitif di sebagian segmen pasar Kanada. Namun, skema sertifikasi sukarela yang memberikan verifikasi pihak ketiga khusus untuk produk karet belum dianggap lazim.
 
Masyarakat internasional baru saja memulai upaya terkait penetapan standar dan sistem sertifikasi untuk keberlanjutan karet. Komoditas ini tidak seperti tanaman berorientasi ekspor lain (misalnya, kopi, kakao, kelapa sawit, lada) yang memiliki riwayat keberlanjutan yang jauh lebih panjang karena, tidak seperti komoditas-komoditas tersebut, karet bukanlah produk yang dapat dikonsumsi. Masalah karet berkisar dari dampak lingkungan perkebunan karet sampai penggunaan petrokimia yang sangat mencemari lingkungan sebagai bahan baku, hingga karet divulkanisasi/bekas yang tidak dapat didaur ulang. Dampak lingkungan karet di Indonesia sangat akut berupa hilangnya hutan alam yang signifikan dan mengakibatkan dampak keanekaragaman hayati dan emisi gas rumah kaca.
 
Sampai saat ini, ada seperangkat kumpulan standar keberlanjutan sukarela yang khusus disusun untuk karet, yaitu Sustainable Natural Rubber Initiative (SNR-i). Cara lain untuk mengupayakan agar produk karet alam dapat bersertifikasi adalah dengan mengadopsi standar keberlanjutan sukarela untuk pertanian dan kehutanan, yang melimpah dalam hal pilihan dan lebih dikenal luas jika dibanding standar yang khusus terkait perkebunan karet. Beberapa skema sertifikasi yang berlaku untuk sektor pertanian dan kehutanan yang lebih luas adalah Forest Stewardship Council (FSC), Sustainable Forestry Initiative (SFI), dan Sustainable Agriculture Network (SAN). Beberapa standar terkait kesetaraan gender dalam sertifikasi ini mencakup kesetaraan upah untuk pekerjaan dengan nilai yang sama, pengakuan terhadap kontribusi perempuan pada produksi karet, kesehatan dan keselamatan kerja, dan beban ganda perempuan.
 
Di bawah ini terdapat beberapa langkah sukarela yang terkait proses produksi dan pengelolaan yang berkelanjutan serta kinerja sosial yang dapat diterapkan pada sektor pertanian dan kehutanan, termasuk karet:

  • Sustainable Natural Rubber Initiative (SNR-i)—SNR-i adalah standar keberlanjutan sukarela pertama untuk karet. Standar ini dibuat berdasarkan kerangka International Rubber Study Group (IRSG), yang terdiri dari pemerintah negara-negara penghasil dan pengonsumsi karet. Melalui Kelompok Kerja Karet Alam Berkelanjutan, SNR-i menyusun standar keberlanjutan sukarela yang dapat diterapkan pada industri karet alam.[1] Standar yang dikembangkan ditafsirkan menjadi lima kriteria, dengan masing-masing kriteria terkait indikator spesifik. Kelima kriteria tersebut adalah: (1) mendukung peningkatan produktivitas, (2) meningkatkan kualitas karet alam, (3) mendukung kelestarian hutan, (4) pengelolaan air, dan (5) menghormati hak asasi manusia dan ketenagakerjaan.[2] Tidak seperti kebanyakan skema sertifikasi sukarela yang dikembangkan organisasi lain, sistem yang dikembangkan oleh SNR-i memungkinkan pihak yang berkepentingan untuk secara sukarela mengadopsi standar tersebut melalui sertifikasi sendiri.[3] Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi laman SNR-i.
  • Forest Stewardship Council (FSC)—FSC adalah skema sertifikasi hutan terkenal di dunia yang mendorong praktik pengelolaan hutan yang ramah lingkungan dan bermanfaat secara sosial. Hasil hutan, seperti kayu dan kertas, yang memiliki sertifikasi ini menunjukkan bahwa mereka bersumber dari "hutan yang dikelola secara bertanggung jawab" serta memenuhi standar lingkungan dan sosial ketat yang ditetapkan oleh FSC. FSC memiliki dokumen panduan untuk mendorong kesetaraan gender dalam standar kehutanan internasional. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi FSC.
  • Sustainable Forestry Initiative (SFI)— Ada tiga standar keberlanjutan yang didorong oleh SFI, yaitu mengenai pengelolaan kehutanan, pengadaan serat, dan rantai pengaman. Sertifikasi SFI juga menunjukkan bahwa kegiatan yang dilakukan di hutan yang bersertifikat SFI menjaga hak pekerja laki-laki maupun perempuan sesuai konvensi inti Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organization atau “ILO”). Kunjungi tautan berikut untuk informasi lebih lanjut: SFI.
  • Sustainable Agriculture Network (SAN) Standard—SAN menyusun standar global yang mencerminkan keberlanjutan lingkungan dan sosial dalam produksi pertanian. Beberapa prinsip standar keberlanjutan SAN meliputi pengelolaan tanaman terpadu, pengelolaan limbah terpadu, perlindungan satwa liar, konservasi ekosistem, konservasi tanah, kesehatan kerja, hubungan masyarakat, dan kondisi kerja. Kunjungi tautan berikut untuk informasi lebih lanjut: SAN.
  • Program untuk Endorsement of Forest Certification (PEFC)—Sertifikasi ini berlaku di seluruh rantai pasok hutan yang menjamin bahwa standar ekologi, sosial, dan etika diberi perhatian tertinggi dalam pengelolaan hutan untuk keberlanjutan dan menghasilkan hasil hutan kayu maupun bukan kayu. Beberapa negara seperti Inggris, Jepang, dan Jerman telah mengadopsi skema sertifikasi ini sebagai standar untuk kebijakan pengadaan kayu publik dan swasta. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi situs web PEFC.
  • International Sustainability and Carbon Certification (ISCC)—Skema sertifikasi ini memberikan kepastian tentang keberlanjutan produk (termasuk keberlanjutan sosial) dan memungkinkan ketertelusuran di seluruh rantai pasok global. Skema ini dapat diterapkan pada berbagai produk biomassa, termasuk makanan, pakan ternak, dan bahan bakar nabati. ISCC mengumpulkan berbagai pemangku kepentingan dalam rantai pasok biomassa dan para ahli dari organisasi lingkungan dan sosial. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi laman ISCC.
  • Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP)—Ini adalah sistem manajemen risiko yang mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan bahaya yang berkaitan dengan keselamatan makanan di seluruh rantai pasok makanan.
Selain langkah sukarela yang disusun oleh berbagai organisasi di atas, International Organization for Standardization (ISO) telah mengembangkan standar yang dapat diadopsi oleh berbagai pemangku kepentingan dalam rantai pasok produk karet. Standar ini meliputi:
  • ISO 2230: 2002—Standar internasional ini berlaku untuk produk karet padat dan seluler yang terbuat dari karet mentah kering, lateks, atau sumber lainnya. Standar tersebut menguraikan metode yang dapat diterima untuk "inspeksi, prosedur pencatatan, pengemasan, dan penyimpanan produk, rakitan, dan komponen yang dibuat dari karet divulkanisasi atau termoplastik."[4]
  •  ISO 7664: 2000—Standar ini memberikan panduan tentang metode penyimpanan karet alam mentah dan karet sintetis mentah yang paling sesuai dalam bentuk bal. Standar ini menyediakan perangkat untuk memastikan bahwa karet alam mentah dan karet sintetis mentah terlindung dari kondisi penyimpanan yang tidak menguntungkan yang dapat mengubah ciri fisik dan/atau kimiawinya.[5]
  • ISO 9924-1: 2016—Standar tersebut mencantumkan metode termogravimetri untuk menghitung "kandungan organik total, kandungan carbon black dan abu pada campuran yang divulkanisasi dan tidak diawetkan."[6] Standar ini berlaku untuk lima jenis karet: (1) polyisoprene yang berasal dari karet alam atau sintetis; (2) polybutadiene; (3) kopolimer styrene-butadiene; (4) kopolimer isobutylene-isoprene; dan (5) kopolimer ethylene-propylene dan terpolimer terkait.
  • ISO 9924-2: 2016—Standar ini merinci metode termogravimetrik untuk memastikan "jumlah kandungan organik, kandungan carbon black, residu dan abu karbon dalam campuran yang divulkanisasi dan tidak diawetkan mengandung polimer yang membentuk residu karbon pada pirolisis."[7]
  • ISO/TR 24699: 2009—Standar ini menyediakan alat untuk meminimalkan "dampak lingkungan yang merugikan" dari pembuatan produk karet sekaligus memastikan bahwa produk yang dihasilkan sesuai untuk digunakan.[8]
  • ISO 14001: 2015—Standar ini menetapkan persyaratan bagi organisasi yang ingin secara sistematis mengelola tanggung jawab lingkungannya.
  • ISO 9001: 2015—Skema sertifikasi ini berfokus pada persyaratan umum untuk sistem manajemen mutu yang harus diterapkan oleh organisasi mana pun yang perlu menunjukkan kemampuannya untuk secara konsisten memberikan produk dan/atau layanan yang memenuhi persyaratan perundang-undangan dan peraturan yang berlaku.

[1] Sustainable Natural Rubber Initiative, Tentang Kamihttp://www.snr-i.org/About+Us_3_1.htm (diakses pada 4 April 2017).
[2] Sustainable Natural Rubber Initiative, Pedoman dan Kriteria Sukarela Versi 1http://www.snr-i.org/Voluntary%20Guidelines%20and%20Criteria%20Version%201_5_1.htm (diakses pada 4 April 2017).
[3] Sustainable Natural Rubber Initiative, Tentang Kamihttp://www.snr-i.org/About+Us_3_1.htm (diakses pada 4 April 2017).
[4] International Organization for Standardization, ISO 2230: 2002 (en) Produk karet—Pedomanhttps://www.iso.org/obp/ui/#iso:std:iso:2230:ed-2:v1:en (diakses pada 3 April)
[5] [5]International Organization for Standardization, ISO 7664: 2000 (en) Karet, alam mentah maupun sintetis mentah—Pedoman Umum Penyimpananhttps://www.iso.org/obp/ui/#iso:std:iso:7664:ed-1:v1:en (diakses pada 3 April).
[6] International Organization for Standardization, ISO 9924-1: 2016 Karet dan produk karet—Penentuan komposisi campuran yang divulkanisasi dan campuran yang tidak diawetkan dengan termogravimetri—Bagian 1: Karet butadiene, kopolimer dan terpolimer ethylene-propyleneisobutene-isopreneisoprene, dan styrene-butadienehttps://www.iso.org/standard/70333.html (diakses pada 3 April).
[7] International Organization for Standardization, ISO 9924-2: 2016 Produk karet dan karet – Penentuan komposisi campuran yang divulkanisasi dan campuran yang tidak diawetkan dengan termogravimetri – Bagian 2: Karet akrilonitril-butadiena dan halobutil, https://www.iso.org/standard/70335.html (diakses pada 3 April).
[8] International Organization for Standardization,ISO/TR 24699: 2009, Produk karet dan karet – Aspek-aspek lingkungan – Pedoman umum untuk penyertaannya dalam standar, https://www.iso.org/standard/42439.html(diakses pada 3 April).