Pasar Ceruk Udang Kanada   

Pasar ceruk merupakan kelompok konsumen dalam suatu pasar yang memiliki perilaku pembelian dan/atau karakteristik gaya hidup tertentu (Thilmany, 2008). Konsumen Kanada saat ini semakin peduli dan memperhatikan pilihan produk yang bertanggung jawab dan berkelanjutan yang ada di pasaran. Hal ini telah memicu timbulnya pasar ceruk di mana konsumen menuntut transparansi mengenai karakter keberlanjutan produk, seperti daerah asal produk, dampak lingkungan, dan/atau kinerja sosialnya. Konsumen ingin tahu dari mana makanan mereka berasal karena berbagai alasan. Mereka mungkin ingin menghindari pembelian udang dari negara atau wilayah yang memiliki reputasi mengizinkan penggunaan antibiotik dan hormon pertumbuhan secara berlebihan dalam budidaya udang. Produksi udang juga telah dikaitkan dengan sejumlah masalah lingkungan, termasuk udang liar yang ditangkap menggunakan pukat hela dasar, tambak yang dibangun di atas lahan yang didapat dengan membuka hutan bakau, dan limbah tambak tak diolah yang dibuang ke dan mencemari perairan di sekitarnya. Sebagian konsumen bisa jadi hanya mau membeli udang yang diproduksi dengan cara yang hanya memiliki dampak negatif terbatas atau tidak ada sama sekali pada lingkungan. Ini termasuk udang yang diproduksi secara organik. Kanada merupakan salah satu pasar terbesar untuk makanan dan minuman organik (Common Fund for Commodities, 2011). Sejumlah supermarket di Kanada menawarkan pilihan boga bahari yang berkelanjutan kepada konsumen, entah tangkapan liar atau hasil budidaya.
 
Sebagian konsumen juga tertarik untuk mengetahui kinerja sosial produk, misalnya, bahwa tenaga kerja dalam rantai suplai dilindungi oleh hukum nasional dan internasional, bahwa prinsip-prinsip kesetaraan benar-benar diberlakukan, dan tenaga kerja yang digunakan bekerja tanpa paksaan (bukan kerja paksa) dan cukup usia (bukan pekerja anak). Sebagian besar produksi udang di Indonesia dihasilkan dari perikanan tradisional[1] di mana perempuan memegang peranan penting.[2] Konsumen Kanada tertarik pada kinerja sosial masyarakat ini dan kondisi dalam rantai suplai. Sertifikasi sukarela seperti ASC, BAP, MSC dan GAP mempromosikan udang berkelanjutan dan menyediakan sarana yang dapat diverifikasi dalam pengukuran kinerja lingkungan dan sosial.
 
Menurut laporan Greenpeace Canada tahun 2014, kebijakan pengadaan berkelanjutan yang berlaku untuk makanan laut segar dan beku serta produk yang mengandung bahan-bahan laut telah diterapkan oleh enam dari delapan supermarket terbesar di Kanada (Greenpeace Canada, 2014). Intinya, tujuan yang ingin dicapai adalah mendorong supermarket tersebut untuk menghentikan penjualan produk makanan laut tidak berkelanjutan yang tercantum dalam daftar Red List Greenpeace dan menggantinya dengan alternatif yang telah diakui lebih berkelanjutan. Dampak perubahan kebijakan peritel ini terhadap perilaku pembelian konsumen diukur dalam kasus salmon hasil budidaya. Berdasarkan penjajakan tingkat nasional yang dilakukan Greenpeace terhadap konsumen makanan laut Kanada, 77% dari pembeli salmon menjawab mereka masih akan berbelanja di toko atau pasar yang sama untuk sebagian besar produk ikan dan boga bahari bila toko tersebut memutuskan untuk hanya menjual produk salmon berkelanjutan (Greenpeace Canada, 2014). Hal ini menandakan bahwa sebagian besar konsumen makanan laut Kanada tidak hanya menerima konsep mengonsumsi produk boga bahari yang diadakan secara bertanggung jawab, tetapi juga bersedia membuat perubahan dalam pilihan dan perilaku konsumsi mereka.
 
[1] Global Business Guide Indonesia, Indonesia‚Äôs Aquaculture and Fisheries Sector. www.gbgindonesia/com/en/agriculture/article/2014/indonesia_s_aquaculture_and_fisheries_sector.php
[2] Food and Agriculture Organization of the United Nations. National Aquaculture Sector Overview Indonesia. www.fao.org/fishery/countrysector/naso_indonesia/en