Persyaratan Ceruk Pasar Kanada - Minyak Sawit   

Pasar ceruk merupakan kelompok konsumen dalam suatu pasar yang memiliki perilaku pembelian dan/atau karakteristik gaya hidup tertentu.[1] Konsumen Kanada saat ini semakin peduli dengan pilihan produk yang bertanggung jawab dan berkelanjutan yang ada di pasar. Hal ini memicu timbulnya pasar ceruk di mana konsumen menuntut transparansi mengenai karakteristik keberlanjutan produk, seperti daerah asal produk, dampak lingkungan, dan/atau kinerja sosialnya. Konsumen kadang menggunakan info negara asal untuk menilai mutu produk, keselamatannya, kinerja pengelolaan lingkungan, dan/atau isu ketenagakerjaan terkait. Konsumen berkesadaran sosial memiliki kemampuan untuk membeli produk yang mereka percayai sesuai dengan nilai yang diyakini, sudut pandang, dan pengetahuan mereka.[2]
 
Ekspansi perkebunan sawit yang pesat telah dikritik sebagai salah satu pemicu utama penggundulan hutan di Indonesia. Biaya lingkungan dan sosial deforestasi sangatlah besar, termasuk hilangnya habitat kritis dan keanekaragaman hayati, memperburuk potensi kepunahan spesies yang terancam punah (misalnya: orangutan, harimau, dan gajah), peningkatan emisi gas rumah kaca, perubahan iklim mikro, dan hilangnya hunian bagi masyarakat hutan. Sebuah kelompok perempuan di Kalimantan mencatat isu yang terkait dengan meningkatnya budidaya tanaman sumber daya ekstraktif (mis. sawit, karet): dominasi budaya patriarki; terkikisnya mata pencaharian tradisional perempuan dan usaha kecil; kematian dan penyakit pada perempuan; dan hilangnya keanekaragaman hayati serta akses perempuan pada sumber daya alam.[3] Baik pekerja perempuan maupun laki-laki juga dapat terpapar bahan kimia, yang terutama beracun bagi perempuan selama masa kehamilan. Perempuan juga mengumpulkan kayu bakar dan air yang bisa saja terkontaminasi limbah kimia.[4] Aktivis lingkungan dan sosial serta konsumen yang beretika telah meluncurkan kampanye untuk menghentikan ekspansi perkebunan kelapa sawit di hutan alam, dan menyerukan boikot atas produk minyak sawit yang pengadaannya tidak berkelanjutan. Kampanye ini telah menunjukkan hasil dengan meningkatnya permintaan internasional terhadap minyak sawit yang mengantongi sertifikat berkelanjutan, terutama di Eropa dan Amerika Utara (termasuk Kanada). Sekitar 15% dari pasokan minyak sawit dunia tahun 2012 berasal dari sumber bersertifikat, di mana minyak sawit bersertifikat RSPO dan yang diproduksi secara organik masing-masing tumbuh 90% pada periode 2008-2012 dan 2% pada 2008-2011 menurut model tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (compound annual growth rate atau "CAGR") dan.[5]
 
Produk minyak sawit (digunakan dalam bahan ataupun dijual sebagai minyak makan) dengan sertifikasi independen yang menerangkan pengadaan produk tersebut dilakukan secara berkelanjutan adalah jantung pasar ceruk Kanada untuk komoditas ini. Untuk konsumen ritel, sertifikasi yang diakui secara global seperti RSPO dan ISCC yang ditampilkan pada label produk adalah salah satu identifikasi utama yang membantu konsumen membedakan produk berkelanjutan dari minyak sawit konvensional. Sistem sertifikasi sukarela seperti SAN dan GlobalG.A.P. mempromosikan praktik pertanian berkelanjutan, termasuk perlindungan pekerja perempuan dan laki-laki dari paparan bahan kimia yang digunakan dalam kegiatan perkebunan (misalnya, pestisida dan pupuk). Sistem ini juga memberikan sarana yang dapat diverifikasi untuk mengukur baik kinerja lingkungan maupun sosial (termasuk kesetaraan gender).
 

[1] Dawn Thilmany, “Apa Itu Pasar Ceruk? Keunggulan Apa yang Ditawarkan?,” dalam Pasar CerukPenilaian dan Pengembangan Strategi untuk Sektor Pertanian, ed. Margaret Cowee (Tucson: Western Extension Marketing Committee, 2008). http://www.valueaddedag.org/nichemarkets/NicheMarketscompletebook6-17-08.pdf
[2] Agriculture and Agri-Food Canada, Tren Konsumen Berkesadaran Sosial – Keberlanjutan, November 2012. http://www.agr.gc.ca/eng/industry-markets-and-trade/statistics-and-market-information/agriculture-and-food-market-information-by-region/socially-conscious-consumer-trends-sustainability/?id=1410083148827 (diakses pada 7 Oktober 2016).
[3] Kathleen Speake, Kajian Gender Cepat TPSA (Ottawa: The Conference Board of Canada, 2014).
[4] Hilary Grantmyre, Peran Perempuan dalam Industri Minyak Sawit Indonesia, 24 Desember 2015. http://www.id.undp.org/content/indonesia/en/home/presscenter/articles/2015/12/24/-blog-women-s-role-in-the-palm-oil-industry-in-indonesia-.html (diakses pada 13 Oktober 2016).
[5] Jason Potts, dkk., “Pasar Minyak Sawit,” dalam Status Kajian Prakarsa Keberlajutan 2014: Standar dan Ekonomi Ramah Lingkungan, ed. Roma Ilnyckyj, Debora Holmes, dan Eve Rickert (Winnipeg: International Institute for Sustainable Development, 2014). https://www.iisd.org/pdf/2014/ssi_2014.pdf