Akses Pasar Ceruk Hasil Hutan Kanada   

Pasar ceruk merupakan kelompok konsumen dalam suatu pasar yang memiliki perilaku pembelian dan/atau karakteristik gaya hidup tertentu.[1] Konsumen Kanada saat ini semakin memedulikan pilihan produk yang bertanggung jawab dan berkelanjutan yang ada di pasar. Hal ini memicu timbulnya pasar ceruk di mana konsumen menuntut transparansi mengenai karakteristik keberlanjutan produk, seperti daerah asal produk, dampak lingkungan, dan/atau kinerja sosialnya. Konsumen kadang menggunakan info negara asal untuk menilai mutu produk, keselamatannya, kinerja pengelolaan lingkungan, dan/atau isu ketenagakerjaan terkait. Konsumen beretika memiliki kemampuan untuk membeli produk yang mereka yakini sesuai dengan nilai yang dianut, sudut pandang, dan pengetahuan mereka.[2]
 
Pasar ceruk Kanada meliputi hasil hutan—seperti mebel kayu, kertas, dan lantai kayu—yang disertifikasi secara independen dan dinyatakan telah memenuhi standar terkait praktik pengelolaan hutan yang lestari dan diadakan dari sumber yang legal. Namun demikian, dapat dikatakan bahwa produk yang memiliki sertifikasi hutan telah mengemuka di pasar utama selama satu dekade terakhir.[3] Permintaan hasil hutan yang sesuai dengan standar sukarela keberlanjutan semakin meningkat, sebagaimana terlihat dari perkembangan substansial dalam hal kawasan hutan bersertifikat FSC dan PEFC, masing-masing sekitar 16% dan 18% per tahun (CAGR) selama periode 2004-2013.[4] Akan tetapi, sebagian besar (88%) dari kawasan hutan dengan dua sertifikasi utama ini terletak di Amerika Utara dan Eropa[5]—bukan di negara berkembang sebagai lokasi mayoritas proses pembuatan produk hasil hutan. Tidak mengherankan, di antara 88% kawasan hutan tersebut, Kanada dan AS memiliki kawasan hutan terluas yang bersertifikat FSC dan PEFC.[6]
Seiring produk bersertifikasi hutan yang diakui secara global, seperti FSC dan PEFC, terus menembus pasar arus utama, konsumen ritel dapat memiliki kesadaran yang semakin tinggi mengenai apa yang ditunjukkan sertifikasi ini dan mempunyai lebih banyak pilihan untuk membeli hasil hutan yang terbukti didukung aspek lingkungan yang lestari. Konsumen juga tertarik untuk mengetahui tentang kinerja sosial suatu produk, misalnya bahwa tenaga kerja dalam rantai suplai dilindungi oleh hukum nasional dan internasional, bahwa prinsip-prinsip kesetaraan benar-benar berlaku, dan tenaga kerja yang digunakan bekerja tanpa paksaan (bukan kerja paksa) dan cukup umur (bukan pekerja anak). Sistem ini juga menyediakan sarana yang dapat diverifikasi untuk pengukuran kinerja lingkungan dan sosial (termasuk kesetaraan gender).
 

[1] Dawn Thilmany, “Apa Itu Pasar Ceruk? Keunggulan Apa yang Ditawarkan?,” dalam Pasar CerukPenilaian dan Pengembangan Strategi untuk Sektor Pertanian, ed. Margaret Cowee (Tucson: Western Extension Marketing Committee, 2008). http://www.valueaddedag.org/nichemarkets/NicheMarketscompletebook6-17-08.pdf
[2] Agriculture and Agri-Food Canada, Tren Konsumen Berkesadaran Sosial – Keberlanjutan, November 2012. http://www.agr.gc.ca/eng/industry-markets-and-trade/statistics-and-market-information/agriculture-and-food-market-information-by-region/socially-conscious-consumer-trends-sustainability/?id=1410083148827 (diakses pada 7 Oktober 2016).
[3] Jason Potts, dkk., “Pasar Kehutanan,” dalam Status Kajian Prakarsa Keberlajutan 2014: Standar dan Ekonomi Ramah Lingkungan, ed. Roma Ilnyckyj, Debora Holmes, dan Eve Rickert (Winnipeg: International Institute for Sustainable Development, 2014). https://www.iisd.org/pdf/2014/ssi_2014.pdf , diakses pada 31 Oktober 2016.
[4] Dihitung dari data yang tercantum dalam Jason Potts, dkk., Potts, dkk., “Pasar Kehutanan,” dalam Status Kajian Prakarsa Keberlajutan 2014: Standar dan Ekonomi Ramah Lingkungan, ed. Roma Ilnyckyj, Debora Holmes, dan Eve Rickert (Winnipeg: International Institute for Sustainable Development, 2014). https://www.iisd.org/pdf/2014/ssi_2014.pdf , diakses pada 31 Oktober 2016.
[5] Jason Potts, dkk., “Pasar Kehutanan,” dalam Status Kajian Prakarsa Keberlajutan 2014: Standar dan Ekonomi Ramah Lingkungan, ed. Roma Ilnyckyj, Debora Holmes, dan Eve Rickert (Winnipeg: International Institute for Sustainable Development, 2014). https://www.iisd.org/pdf/2014/ssi_2014.pdf , diakses pada 31 Oktober 2016.
[6] Ibid.