Pasar Ceruk Ikan Kanada   

Pasar ceruk merupakan kelompok konsumen dalam suatu pasar yang memiliki perilaku pembelian dan/atau karakteristik gaya hidup tertentu (Thilmany, 2008). Konsumen Kanada saat ini semakin peduli dan memperhatikan pilihan produk yang bertanggung jawab dan berkelanjutan yang ada di pasaran. Hal ini telah memicu timbulnya pasar ceruk di mana konsumen menuntut transparansi mengenai karakteristik keberlanjutan produk, seperti daerah asal produk, dampak lingkungan, dan/atau kinerja sosialnya. Konsumen kadang menggunakan info negara asal untuk menilai mutu produk, keselamatan, kinerja pengelolaan lingkungannya, dan/atau isu ketenagakerjaan.
 
Sejumlah supermarket di Kanada menawarkan pilihan makanan laut yang berkelanjutan kepada konsumen, baik tangkapan liar maupun hasil budidaya. Menurut laporan Greenpeace Canada tahun 2014, kebijakan pengadaan berkelanjutan yang berlaku untuk makanan laut segar dan beku serta produk yang mengandung bahan-bahan laut telah diterapkan oleh enam dari delapan supermarket terbesar di Kanada (Greenpeace Canada, 2014). Pada intinya, tujuan yang ingin dicapai adalah mendorong supermarket-supermarket tersebut untuk menghentikan penjualan produk makanan laut tidak berkelanjutan tak ramah lingkungan yang tercantum dalam daftar Red List Greenpeace, dan menggantinya dengan alternatif yang telah dikenal sebagai produk lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dampak perubahan kebijakan peritel ini terhadap perilaku pembelian konsumen diukur dalam kasus salmon hasil budidaya. Berdasarkan penjajakan nasional yang dilakukan Greenpeace terhadap konsumen boga bahari Kanada, 77% dari pembeli salmon menjawab mereka masih akan berbelanja di toko atau pasar yang sama untuk sebagian besar produk ikan dan boga bahari bila toko tersebut memutuskan untuk hanya menjual produk salmon berkelanjutan (Greenpeace Canada, 2014). Hal ini menandakan bahwa sebagian besar konsumen makanan laut Kanada mungkin bersedia beralih ke produk boga bahari yang diadakan secara bertanggung jawab. Akan tetapi, pilihan konsumen (antara produk konvensional dan yang diadakan secara bertanggung jawab) juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain, seperti harga.
 
Konsumen juga tertarik untuk mengetahui kinerja sosial produk, misalnya, bahwa tenaga kerja dalam rantai suplai dilindungi oleh hukum nasional dan internasional, bahwa prinsip-prinsip kesetaraan benar-benar diberlakukan, dan tenaga kerja yang digunakan bekerja tanpa paksaan (bukan kerja paksa) dan cukup umur (bukan pekerja anak). Sebagian besar produksi ikan di Indonesia berasal dari perikanan tradisional[1] di mana perempuan memegang peranan penting dalam produksi, pengolahan, dan pemasaran.[2] Saat perempuan menjadi mitra laki-laki yang sejajar, mereka akan memiliki kemampuan lebih baik dalam meningkatkan standar gizi dan kehidupan keluarga mereka, serta kesejahteraan masyarakat, melalui peningkatan produktivitas dan kemandirian. Sertifikasi sukarela seperti ASC, BAP, MSC, dan GlobalGAP mempromosikan perikanan berkelanjutan dan menyediakan sarana yang dapat diverifikasi dalam pengukuran kinerja lingkungan dan sosial (juga termasuk kesetaraan gender).
 
Sisi lain pasar ceruk yang memberikan daya tarik bagi petani ikan, pengolah, dan eksportir adalah pasar ini memberi peluang untuk memanfaatkan lini produk diet sehat sekaligus tetap menawarkan aspek keberlanjutan serta kenyamanan dalam hal kemasan dan waktu persiapan minimum kepada konsumen. Salah satu contohnya adalah produk ikan sehat, siap makan, yang diadakan secara bertanggung jawab dan diproses dalam kondisi yang memenuhi standar sosial dan lingkungan yang diterima  secara global. Jumlah konsumen Kanada yang menjadi lebih sadar kesehatan terus tumbuh, dan separuh dari konsumen yang disurvei Business Development Bank of Canada (BDC-Ipsos)[3] mempertimbangkan dampak kesehatan produk yang dipilih, sedangkan sepertiga konsumen yang disurvei menyatakan kesediaan untuk membayar harga lebih mahal demi produk yang sehat (Business Development Bank of Canada, 2013).

 

[1] Global Business Guide Indonesia, Sektor Budidaya Perairan dan Perikanan Indonesia. www.gbgindonesia/com/en/agriculture/article/2014/indonesia_s_aquaculture_and_fisheries_sector.php
[2] FAO. Tinjauan Sektor Budidaya Perairan Nasional Indonesia. www.fao.org/fishery/countrysector/naso_indonesia/en
[3] Survei BDC-Ipsos tahun 2013 mengungkapkan 31% responden bersedia membayar harga yang lebih mahal.