Kerajinan / Handicraft
10 Produk Potensial
Produk kerajinan tangan mencakup berbagai macam barang atau bahan, baik yang memiliki fungsi khusus atau bersifat dekoratif, yang dibuat sepenuhnya dengan tangan atau menggunakan peralatan sederhana yang kebanyakan dioperasikan dengan tangan. Pada umumnya, kerajinan tangan memanfaatkan kerajinan, teknik atau keterampilan tradisional serta dapat mencakup produk-produk yang terbuat dari tekstil, bahan dari tumbuhan, kertas, logam serta bahan yang mudah di bentuk seperti keramik, tanah liat, lilin, dan lain-lain.

INFORMASI KHUSUS PRODUK

Definisi kerajinan tangan

Secara sederhana, kerajinan tangan dapat didefinisikan sebagai semua produk yang dapat dibuat dengan keterampilan tangan. Produk kerajinan tangan mencakup berbagai jenis produk yang berbeda, dan karena keragamannya yang begitu luas, sulit untuk mengelompokkan kerajinan tangan ke dalam kategori-kategori tertentu. Secara umum, kerajinan tangan dapat diklasifikasikan menjadi peralatan dapur, perlengkapan berkebun, mainan, peralatan kantor, perabotan rumah tangga, aksesori, barang-barang dekoratif, peralatan meja makan, aksesori kamar mandi, bahan cinderamata dan kado, peralatan rumah, hiasan dinding, penutup lantai serta karpet. Ekspor produk kerajinan tangan Indonesia mencakup sebagian besar dari kategori tersebut. Untuk mempermudah sistem bea cukai, berdasarkan Harmonised System dari Organisasi Bea Cukai Dunia (World Customs Organisasion), kerajinan tangan dibagi ke dalam sejumlah Bab, yaitu:

  • Bab 44: Kayu dan barang lainnya dari kayu; arang kayu (wood charcoal) (seperti patung dan ornamen lainnya yang terbuat dari kayu, bingkai kayu);

  • Bab 46: Pemrosesan jerami, dari rumput esparto atau dari bahan anyaman lain; bahan-bahan keranjang dan produk anyaman (seperti keranjang, barang anyaman dan bahan-bahan dari tanaman loofah, dibuat langsung dari bahan bambu, rotan, atau dari bahan-bahan anyaman lain selain bahan nabati, yang diikat bersama menjadi untaian atau tenunan sejajar, dalam bentuk lembaran);

  • Bab 65: Tutup kepala atau bagiannya, (seperti topi dan penutup kepala, rajutan atau kaitan, dibuat dari renda, kain kempa (felt) atau kain tekstil lainnya dalam bentuk lembaran (tapi tidak dalam bentuk strips, topi yang dianyam atau dibuat dengan menyusun strips dari bahan apa pun, jaring rambut (hair nets) dari bahan apa pun);

  • Bab 66: Payung dan payung panas, tongkat jalan, tongkat duduk, cambuk, pecut dan bagiannya, (seperti rangka payung, termasuk rangka yang dipasang pada tangkai);

  • Bab 67: Bulu atau bulu halus dan bahan-bahan yang terbuat dari bulu atau bulu halus; bunga artifisial; bahan-bahan dari rambut manusia (seperti  wig, jenggot, alis dan bulu mata palsu, switches dan sejenisnya, dari rambut manusia atau bulu hewan atau dari bahan tekstil; bahan-bahan dari rambut manusia tidak dirinci di bab lain, wig lengkap atau barang lain dari bahan tekstil sintentik, atau barang dari rambut manusia, bunga, daun, buah artifisial serta bahan lain yang terbuat dari bahan tersebut, kulit dan bagian lainnya dari unggas dengan bulu atau bulu halusnya, diberi pemutih bleached, diwarnai (dyed), atau diproses dan bahan-bahan dari bulu atau bulu halus);

  • Bab 69: Produk keramik, (seperti patung dan barang-barang lainnya, baik dari porselen atau tembikar cina);

  • Bab 70: Kaca dan barang dari kaca, (seperti manik-manik, mutiara imitasi, batu mulia imitasi atau batu semi mulia imitasi dan barang kecil sejenis dari kaca);

  • Bab 83: Berbagai barang dari logam non mulia (seperti patung dan ornamen lain, serta bagiannya, dari logam non mulia yang tidak disepuh dengan logam mulia, lonceng, gong dan sejenisnya, serta bagian-bagiannya.

  • Bab 90: Peralatan dan perlengkapan optik, fotografi, sinematografi, alat pengukur, pemeriksa, presisi, peralatan medis atau operasi; bagian dan akesesorinya, (seperti bagian dari bingkai dan mounting untuk kacamata, kacamata pelindung dan sejenisnya);

  • Bab 92: Instrumen musik: bagian dan aksesori dari barang-barang tersebut, seperti instrumen musik perkusi (misalnya, drum, xylophone, simbal, kastanyet, marakas);

  • Bab 95: Berbagai jenis mainan, permainan dan barang olahraga; bagian dan aksesorinya (seperti perlengkapan joran, penggulung tali pancing, dan bagian serta aksesorinya); dan

  • Bab 96: Berbagai bahan manufaktur, (kuas cat, kuas distemper, kuas pernis atau kuas sejenis; baki dan rol cat; bahan ukiran nabati atau mineral yang dikerjakan; barang cetakan atau ukiran dari lilin atau malam, dari stearin, dari getah atau resin dan lain-lain; bahan gelatin yang tidak dikeraskan;  tulang yang dibentuk, tempurung kura-kura, tanduk, tanduk rusa, karang laut, kulit kerang, dan bahan ukiran hewani lainnya yang dibentuk; sikat gigi; tusuk rambut (hair pin), jepitan pengikal (curling pin), pengikal rambut (hair curler), pengeriting rambut (bukan alat listrik), kuas untuk keperluan seni; kuas tulis dan kuas sejenis untuk keperluan kosmetik, sisir, jepitan perapih rambut dan sejenisnya, dengan atau tanpa gagang; pipa untuk merokok dan pipa rokok atau pipa sigaret, dan bagiannya).

Produksi dan perdagangan kerajinan tangan Indonesia

Kerajinan tangan dan bentuk kesenian tradisional Indonesia mencerminkan keragaman yang berasal dari 300 lebih kelompok etnis yang ada di negara ini. Sama halnya dengan bahasa dan tradisi, kelompok etnis juga mengembangkan ornamen, ukiran dan barang-barang mereka sendiri, baik untuk keperluan sehari-hari maupun keperluan upacara khusus. Warisan budaya kerajinan tangan Indonesia yang kaya tersebut sangatlah unik, dan tercermin dalam produk yang diekspor ke luar negeri.
 
Kerajinan tangan Indonesia meliputi rancangan dari masa kepercayaan animisme masa awal serta cerminan pengaruh dari Hinduisme dan Buddhisme yang dibawa oleh bangsa India, Cina dan pedagang lainnya, serta dipengaruhi oleh budaya Islami dan budaya-budaya lain, yang semuanya berkontribusi terhadap keragaman budaya negara ini. Barang-barang dekoratif dan fungsional yang terbuat dari berbagai bahan kayu, serat, bambu, rotan dan rumput alami, seringkali menggunakan dekorasi dari pewarna alami atau kimia, manik-manik atau ornamen alami lainnya. Barang-barang yang dihasilkan memiliki berbagai macam bentuk; termasuk berbentuk mangkuk, wadah, tikar tenunan, keranjang, kap lampu atau produk-produk kertas alami.
 
Secara visual, kerajinan tangan Indonesia memiiki kekayaan simbolisme. Motif-motif kerajinan tangan diambil dari inspirasi alam, seperti bunga, pegunungan, air, awan atau binatang yang digabungkan dengan gambar-gambar yang memiliki makna religius. Secara khusus, barang-barang keramik seringkali terdiri dari barang keperluan sehari-hari, seperti bejana dan piring biasa, yang digabungkan dengan potongan-potongan dekoratif berkualitas tinggi dari warisan generasi turun temurun, yang juga dapat ditemukan dalam reproduksi modern. Ukiran kayu Indonesia mencerminkan warisan budaya dan tradisi khusus dari daerah asal mereka. Barang-barang lain, seperti bingkai foto dan instrumen musik, juga seringkali diekspor.
 
Terdapat sejumlah institusi pemerintah serta institusi swasta di Indonesia yang mendukung industri kerajinan tangan domestik. Asosiasi bisnis permebelan terbesar di Indonesia adalah Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO), yang mendukung perusahaan pengekspor, perusahaan finishing dan produsen mebel dari produksi mekanik. Kegiatan tersebut masih relevan dengan industri kerajinan tangan, karena ASMINDO mewakili lebih dari 2.000 perusahaan yang terlibat dalam manufaktur dan ekspor perabotan mebel dan produk terkait dengan mebel, termasuk produk-produk kayu dan kerajinan tangan. Kegiatan utama organisasi ini mencakup pemasaran dan promosi produk-produk Indonesia, serta mengamankan persediaan bahan baku dan pendanaan, manajemen gudang untuk bahan baku, dan juga menyalurkan sumber-sumber finansial. Sebagai tambahan, ASMINDO juga menyelenggarakan seminar dan berpartisipasi dalam pameran dan pertunjukan perdagangan permebelan internasional, seperti Pameran Mebel & Kerajinan Indonesia (Indonesia Annual Furniture Fair - IFFINA)
 
Berkenaan dengan perdagangan internasional kerajinan tangan Indonesia, tabel di bawah ini menggambarkan 10 produk utama untuk ekspor kerajinan tangan Indonesia ke Uni Eropa, berdasarkan data rata-rata ekspor tahunan dari periode 2007 hingga 2011:

DESKRIPSI KOMODITAS KODE HS Rata-rata ekspor Indonesia ke Uni Eropa per tahun (US$) selama 2007-2011
Tatakan kayu dan hiasan kayu; peti atau kotak untuk perhiasan atau peralatan makan serta barang-barang sejenis dari kayu; bahan-bahan mebel dari kayu, yang tidak termasuk dalam Bab 94 - Lain-lain 442090 190.220.737
Tatakan kayu dan hiasan kayu; peti atau kotak untuk perhiasan atau peralatan makan serta barang-barang sejenis dari kayu; bahan-bahan mebel dari kayu, yang tidak termasuk dalam Bab 94 - Patung dan ornamen lain dari kayu 442010 70.941.822
Keranjang, barang anyaman dan bahan-bahan lain, dibuat langsung dari bahan-bahan anyaman selain dari bambu dan rotan; bahan-bahan dari tanaman loofah 460219 31.028.123
Bingkai kayu untuk lukisan, foto, cermin dan objek sejenis 441400 11.243.180
Wig, jenggot, alis dan bulu mata palsu, switches dan sejenisnya, dari rambut manusia atau bulu hewan atau dari bahan tekstil; bahan-bahan dari rambut manusia tidak dirinci atau dimasukkan di bab lain - Dari bahan tekstil sintetik - Wig lengkap 670411 13.537.519
Wig, jenggot, alis dan bulu mata palsu, switches dan sejenisnya, dari rambut manusia atau bulu hewan atau dari bahan tekstil; bahan-bahan dari rambut manusia tidak dirinci atau dimasukkan di bab lain - Dari bahan tekstil sintetik - Lain-lain 670419 11.069.320
Wig, jenggot, alis dan bulu mata palsu, switches dan sejenisnya, dari rambut manusia atau bulu hewan atau dari bahan tekstil; bahan-bahan dari rambut manusia tidak dirinci atau dimasukkan di bab lain - Dari rambut manusia 670420 12.742.688
Keranjang, barang anyaman dan bahan-bahan lain, dibuat langsung dari rotan 460212 15.079.537
Keranjang, barang anyaman dan bahan-bahan lain, dibuat langsung dari bambu 460211 11.369.737
Instrumen musik perkusi (misalnya, drum, xylophone, simbal, kastanyet, marakas) 920600 8.058.265
Sumber: BPS (disiapkan oleh Pusat Data dan Informasi, Kementerian Perdagangan Indonesia)

PRINSIP DAN KEBIJAKAN DAN INFORMASI PRODUK

Pasar global untuk kerajinan tangan
 
Peta di bawah ini menggambarkan negara-negara utama yang terlibat dalam perdagangan kerajinan tangan pada tahun 2011, yang diurutkan berdasarkan nilai ekspor dan impor mereka dalam dolar Amerika, atas produk yang termasuk dalam kategori kode HS 442010 (misalnya patung dan ornamen), yang merupakan salah satu produk ekspor terbesar Indonesia dalam kerajinan tangan, seperti yang tertera dalam tabel di atas. Dapat kita amati, negara pengekspor kerajinan tangan terbesar adalah Cina, diikuti oleh Indonesia dan beberapa Negara Anggota Uni Eropa.
 

Sumber: International Trade Centre, 2013
 
Berdasarkan peta di bawah, negara pengimpor terbesar untuk barang-barang kerajinan tangan dalam kode HS 442010 pada tahun 2011 adalah Amerika Serikat, diikuti oleh beberapa Negara Anggota Uni Eropa, Australia serta Kanada. 
 

Sumber: International Trade Centre, 2013
 
Berkenaan dengan perdagangan internasional antara Indonesia dan Uni Eropa, terlepas dari ukuran pasar Uni Eropa, ekspor Indonesia terlihat mengalami hasil yang kurang memuaskan selama dekade terakhir, walaupun terdapat kemajuan positif pada tahun 2011 sebesar lebih dari satu miliar USD. Kecenderungan serupa dapat dilihat pada ekspor Indonesia ke pasar lain, seperti Amerika Serikat atau Jepang. Akan tetapi, penurunan ekspor 'jarak-jauh' sepertinya telah digantikan dengan ekspor ke pasar regional ASEAN, dalam bentuk produk yang memungkinkan Indonesia berfokus pada sumber daya manusia dan sumber daya alamnya yang melimpah. Meskipun nilai tambah bagi beberapa kerajinan tangan dapat menjadi terbatas, banyak sekali mata pencaharian di daerah pedesaan yang sangat tergantung pada perdagangan kerajinan tangan seperti ini.
 
Uni Eropa memiliki pasar kerajinan tangan yang terbagi-bagi, dengan produksi dalam skala kecil, dan tidak terdapat produsen yang dominan. Aktivitas impor memainkan peranan penting untuk persediaan bagi pasar kerajinan tangan Uni Eropa, terutama yang berasal dari negara-negara berkembang. Karena upah tenaga kerja yang  umumnya lebih rendah dari negara-negara tersebut, mereka cenderung menikmati keunggulan kompetitif terhadap Negara Anggota Uni Eropa, terutama pada pasar produk-produk low-end. Sebagai tambahan, produk-produk dengan nilai etnis orisinil mendapat pangsa pasar yang semakin luas, sebagai konsekuensi dari meningkatnya permintaan di Uni Eropa atas barang-barang buatan tangan (handmade), orisinil, artistik atau eksklusif. Sebaliknya, produsen barang-barang tersebut juga perlu menyadari bahwa permintaan konsumen di Uni Eropa terhadap kualitas produk, desain, warna, bentuk, eksklusivitas atau keramahan produk terhadap lingkungan, telah semakin meningkat.
 
Distribusi kerajinan tangan di pasar Uni Eropa juga terbagi-bagi, sehingga akses terhadap pasar dapat melalui sejumlah jalur distribusi. Gambar di bawah ini menunjukkan gambaran sederhana dari struktur perdagangan pasar suvenir kayu, dan menunjukkan bagaimana produk kerajinan tangan tersebut memiliki jalur-jalur yang berbeda dalam mencapai konsumen: 
 

Sumber: TuYu BV, seperti dikutip dalam The EU market for wooden gifts and handicrafts (CBI Market Information Database), 2007 

Terkait dengan hal tersebut, kerajinan tangan negara-negara berkembang dapat mengakses pasar Uni Eropa melalui salah satu dari perantara berikut:

  • Agen: merupakan perantara yang mewakili importir atau eksportir, dan bekerja berdasarkan komisi. Mereka mengendalikan proses produksi dan memastikan proses logistik berjalan lancar;

  • Importir-grosir: integrasi dari fungsi importir dan grosir, yang mempermudah komunikasi dengan perusahaan eksportir Mereka memiliki pengetahuan tentang mode busana dan tren di pasar ekspor, dan biasanya memiliki staf ekstensif sendiri;

  • Kelompok pembeli: pedagang eceran individual dapat bekerja sama dalam suatu entitas tunggal, dengan bentuk fungsi pembelian dan impor sederhana, atau dalam bentuk toko yang lengkap atau dengan struktur lisensi (franchise);

  • Pedagang eceran: cara paling mudah untuk ekspor, jika importir memiliki jaringan toko yang luas; serta

  • Organisasi pasar ekspor: dibentuk oleh produsen-produsen individual skala mikro yang menggabungkan usaha mereka sehingga membentuk suatu perusahaan pemasaran ekspor.

Keragaman bentuk usaha ritel atau eceran di pasar Uni Eropa juga tercermin dari berbagai variasi outlet ritel, yang mencakup ritel khusus, department stores, katalog dengan pemesanan melalui surat, super dan hypermarket, toko swalayan, dan e-shops
 
Organisasi internasional
 
Salah satu organisasi internasional yang kegiatannya sesuai dengan tujuan kerajinan tangan adalah International Tropical Timber Organisation (ITTO), yang berfokus pada promosi untuk konservasi dan manajemen, penggunaan serta perdagangan berkelanjutan atas sumber-sumber daya alam hutan tropis. Produk-produk kayu merupakan bagian yang sangat signifikan pada produk kerajinan tangan, dengan produksi yang melibatkan penanganan kayu.
 
Pada tingkatan yang lebih umum, organisasi internasional yang mengatur perdagangan yang adil (fair trade) dan perdagangan internasional untuk barang-barang yang melibatkan negara-negara berkembang juga memiliki perhatian terhadap kerajinan tangan. World Fair Trade Organisation (WFTO) menyatukan koperasi, asosiasi, serta para pengecer, dengan tujuan untuk memperkuat pasar demi perdagangan yang adil. Dari berbagai inisiatif, WFTO telah memperjuangkan sertifikasi perdagangan adil (fair trade certification), yang menjamin bahwa barang-barang yang memiliki sertifikasi tersebut telah memenuhi sejumlah standar yang berhubungan dengan kondisi kerja dan lingkungan hidup. Contoh lebih lanjut mengenai organisasi internasional terkait dengan fair trade pada tingkat global adalah Fair Trade International (FTI).
 
Jenis rantai nilai untuk kerajinan tangan
 
Karena kerajinan tangan meliputi serangkaian produk-produk heterogen, maka rantai nilainya sangat berbeda antara satu produk dengan yang lain.
 
Dengan menggunakan contoh, rantai nilai untuk sejumlah kerajinan tangan (yaitu, kerajinan tangan kayu, kerajinan tangan anyaman, kerajinan tangan porselen, kain kempa (felt) untuk topi dan penutup kepala, dan wig) adalah sebagai berikut:
 
Pada umumnya, kerajinan tangan kayu melalui empat tahapan dalam rantai nilainya, yaitu:
 
1.   Pengeringan kayu;
2.   Pengerjaan mesin, dibagi menjadi pemrosesan kayu kasar (rough milling) dan pemesinan kayu halus (fine machining);
3.   Perakitan, yang termasuk sub-perakitan (potongan-potongan) dan perakitan akhir (untuk membentuk barang jadi dasar); dan
4.   Penyelesaian, terdiri dari proses pengerjaan permukaan serta proses pemolesan.
 
Diagram alur di bawah ini menggambarkan pemrosesan kayu, mulai dari sebagai bagian dari suatu pohon hidup hingga menjadi produk konsumen yang siap dikemas dan dipajang di toko:
 

Sumber: Furniture CN, 2013.
 
Rantai nilai kerajinan tangan anyaman melibatkan serangkaian tahapan yang hampir sama, mulai dari pemilihan bahan baku, hingga ekspor produk jadi. Diagram alur di bawah ini memberikan ilustrasi atas tiga belas tahapan yang diterapkan untuk kerajinan tangan anyaman di sepanjang rantai nilainya.
 

Sumber: Shandong, 2013.
 
Untuk proses manufaktur wig – yang pasar ceruk (niche market) ekspornya signifikan untuk Indonesia - rantai nilainya mencakup lima tahapan, yaitu:
  • Persiapan rambut: selama tahap awal, rambut-rambut individual disisir ke arah yang sama. Ikatan-ikatan rambut tersebut kemudian dicuci, dibilas serta dikeringkan;

  • Persiapan pola: dasar dari wig konsumen perlu dibuat semirip mungkin dengan bentuk kepala klien, yang dapat dihasilkan dengan pengukuran yang teliti, atau dengan penggunaan suatu model;

  • Membuat dasar atau fondasi untuk wig konsumen;

  • Membuat ikatan, yang mengacu pada tahapan rambut diikatkan pada dasar wig; dan

  • Penataan atau styling, yang mencakup pada sentuhan akhir serta melembapkan dan menyisir rambutnya.

Sumber: Swicofil AG, 2013.
 
Dampak terhadap lingkungan hidup yang dihasilkan selama proses produksi dan siklus hidup produk merupakan isu utama dari berbagai jenis kerajinan tangan. Untuk mencapai proses produksi serta konsumsi yang berkelanjutan, penggunaan sumber daya alam harus dikelola di sepanjang rantai nilai. Terlepas dari perbedaan yang melekat pada rantai nilai yang berbeda dari tiap kerajinan tangan, seperti yang digambarkan di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam hal dampak terhadap lingkungan hidup, rantai nilai tersebut cenderung memiliki kesamaan dalam hal-hal tertentu. Terkait dengan hal tersebut, daftar di bawah ini menggambarkan lima aspek yang paling relevan dalam menilai tingkat ramah lingkungan suatu kerajinan tangan, yang dapat menjadi faktor dalam pilihan konsumen:
  • Berkenaan dengan bahan baku: sumber daya alam harus dioptimalkan (misalnya menggunakan sumber energi terbarukan dan menghindari penggunaan zat-zat berbahaya untuk mengurangi emisi dan limbah);

  • Selama proses manufaktur suatu produk: konsumsi energi dan air harus diminimalkan untuk mencegah polusi emisi dan limbah yang tidak perlu;

  • Berkenaan dengan pengemasan, transportasi, dan pemasaran, seluruh sistem harus dioptimalkan. Secara khusus, pengemasan harus melibatkan penggunaan bahan-bahan ramah lingkungan, untuk menghindari produksi pengemasan yang tidak diperlukan. Sebagai tambahan, logistik harus dirancang dengan pandangan yang menghargai lingkungan hidup, terutama terkait jarak dan cara transportasi.

  • Penggunaan, pemeliharaan, pembaruan dan perbaikan suatu produk harus bertujuan untuk meningkatkan daya tahan (durability) dan kegunaannya (usability). Dampak terhadap lingkungan hidup selama penggunaan suatu produk harus diminimalkan; dan

  • Produk harus dirancang sehingga dapat didaur ulang dan dibuang dengan mudah pada akhir siklus hidup mereka atau, sebagai alternatif, mudah dibongkar dan dapat didaur ulang. Untuk bahan-bahan yang tidak dapat didaur ulang dan pasti menjadi limbah, perhatian khusus harus diberikan terhadap dampak akhir terhadap lingkungan hidup dari produk tersebut.

Persyaratan kepatuhan
 
Persyaratan yang berhubungan dengan akses pasar dapat berasal dari peraturan atau melalui label-label, kode, serta sistem manajemen. Persyaratan seperti itu dapat didasarkan pada sejumlah kekhawatiran, yaitu perlindungan lingkungan hidup, kesehatan serta keselamatan konsumen, atau isu-isu sosial.
 
Tidak ada kerangka kerja legislatif tunggal di Uni Eropa yang mengatur tentang impor kerajinan tangan. Sebaliknya, persyaratan-persyaratan tersebut ada di dalam berbagai instrumen yang menargetkan kelompok barang-barang yang berbeda. Sama halnya dengan klasifikasi yang dijabarkan di atas untuk tujuan bea cukai, persyaratan akses pasar untuk kerajinan tangan tersebar dalam berbagai instrumen yang menargetkan berbagai kelompok produk. Oleh karena itu, diperlukan suatu perhatian khusus terhadap lingkup penerapan dari tiap instrumen legislatif yang ada dan sampai pada tingkat dimana instrumen tersebut berlaku.
 
Persyaratan untuk perhiasan
 
Batasan Uni Eropa untuk perhiasan dapat diberlakukan terhadap beberapa jenis kerajinan tangan. Relevansinya bagi eksportir Indonesia adalah pada sejumlah aksesori rambut, sebagai bagian dari yang disebut perhiasan busana (kostum) atau bijoux, terutama tusuk rambut (hair pin), jepitan pengikal (curling pin) (dikelompokkan dalam kode HS 961590), dan sisir, jempitan perapih rambut dan sejenisnya (dalam kode HS 961511 dan 961519). Oleh karena itu, impor Uni Eropa harus mematuhi kerangka kerja legislatif berikut: 
Persyaratan tentang bahan-bahan dekorasi rumah
 
Banyak kerajinan tangan yang masuk ke dalam kategori dekorasi rumah. Kerajinan tangan yang relevan dalam kategori ini termasuk:
  • Keramik dan porselen, seperti patung (diklasifikasikan dalam kode HS 691310 atau 691390) atau bahan-bahan lain (dalam kode HS 691410 atau 691490);

  • Anyaman, keranjang dan bahan lain (diklasifikasikan dalam kode HS 460211, 460212, 460219, or 460290);

  • Produk kayu, termasuk bingkai kayu untuk lukisan, cermin, foto atau sejenisnya (diklasifikasikan dalam kode HS 441400), patung kayu dan ornamen lain (dalam kode HS 442010), dan tatakan kayu dan peti kayu untuk perhiasan, peralatan makan dan barang-barang kecil lain (dalam kode HS 442090); dan

  • Barang-barang logam, seperti patung dan bingkai logam, atau barang sejenis lain (diklasifikasikan dalam kode HS 830621, 860629 atau 860630).

Sejumlah persyaratan akses pasar Uni Eropa dapat diberlakukan ke Di bawah ini terdapat penjelasan mengenai batasan impor utama Uni Eropa tentang bahan dekorasi rumah, yang berlaku juga untuk kerajinan tangan:
 
Pertama-tama, impor keramik dan porselen Uni Eropa perlu memperhatikan persyaratan-persyaratan yang ditetapkan oleh instrumen berikut:
 
-    Council Directive tertanggal 15 Oktober 1984 tentang pendekatan hukum Negara Anggota terkait dengan bahan-bahan keramik yang ditujukan untuk bersentuhan langsung dengan bahan pangan
-    Commission Directive 2007/42/EEC tertanggal 29 Juni 2007 terkait dengan material dan bahan-bahan yang terbuat dari lapisan regenerated cellulose yang ditujukan untuk bersentuhan langsung dengan bahan pangan
-    Commission Directive 2002/72 EC tertanggal 6 Agustus 2002 tentang material dan bahan plasik yang ditujukan untuk bersentuhan langsung dengan bahan pangan
-    Commission Regulation (EC) 282/2008 tertanggal 27 Maret 2008 tentang material dan bahan plastik daur ulang yang ditujukan untuk bersentuhan langsung dengan bahan pangan
-    Commission Regulation (EC) 372/2007 tertanggal 2 April 2007 menetapkan bagas migrasi transisional untuk peliat (plasticiser) dalam gasket pada tutup yang ditujukan untuk bersentuhan langsung dengan bahan pangan
-    Council Directive tertanggal 30 Januari 1978 tentang pendekatan hukum Negara Anggota terkait dengan material dan bahan yang mengandung vinil klorida monomer dan ditujukan untuk bersentuhan langsung dengan bahan pangan
-    Commission Regulation (EC) 1895/2005 tertanggal 18 November 2005 tentang pembatasan penggunaan beberapa derivatif epoxy dalam material dan bahan yang ditujukan untuk bersentuhan dengan bahan pangan, dan
-    Commission Regulation (EU) 10/2011 tertanggal 14 Januari 2011 tentang material dan bahan yang ditujukan untuk bersentuhan langsung dangan makanan; serta
 
  • REACH Regulation, yang mengatur komposisi kimia untuk sebagian besar bahan-bahan non makanan, termasuk keramik dan porselen untuk dekorasi dan keperluan rumah tangga.
Hal serupa juga berlaku untuk impor kerajinan anyaman, keranjang dan bahan-bahan lain, serta produk kayu dan logam, yang harus menaati peraturan Uni Eropa di dalam ketentuan instrumen-instrumen berikut:
  • REACH Regulation, terutama terkait dengan creosote di dalam produk-produk kayu. Creosote merupakan campuran bahan kimia yang digunakan, antara lain, untuk pengawetan kayu. Penggunaannya dibatasi karena fakta bahwa beberapa komponennya memiliki waktu degradasi yang lama dan berbahaya untuk organisme tertentu. REACH Regulation juga menetapkan persyaratan untuk penggunaan arsenik dalam pengawetan kayu. Terkait dengan bahan logam, REACH Regulation juga secara khusus membatasi penggunaan senyawa-senyawa organotin dan kadmium, agen karsinogenik, serta beberapa bahan cair yang digunakan dalam produk-produk dekoratif, termasuk logam berat dan kontaminan yang ditemukan dalam cat;
  • Ketentuan CITES dan dua peraturan pelaksanaannya (implementing regulations, "Wildlife Trade Regulations") juga berlaku untuk perdagangan tanaman dan hewan langka serta produk dari bagian-bagian tanaman dan hewan langka tersebut, seperti barang-barang dari bahan anyaman atau kayu;

Persyaratan pengemasan

  • Terkait dengan pengemasan produk kerajinan tangan, pengemasan untuk barang-barang yang diperdagangkan secara internasional harus menaati peraturan tambahan dan/atau peraturan yang lebih ketat dibanding produk-produk yang diperdagangkan secara domestik di dalam pasar Uni Eropa, hingga mewajibkan mereka untuk memiliki periode transit yang lebih panjang, penanganan yang lebih kasar dan seterusnya. Pada saat yang sama, bahan-bahan pengemasan harus memperhatikan batasan-batasan yang ditetapkan oleh European Parliament and Council Directive 94/62/EC tertanggal 20 Desember 1994 tentang pengemasan dan limbah pengemasan, yang ditujukan untuk mencegah limbah produksi dan pengemasan, mendorong penggunaan ulang (reuse) bahan pengemasan serta mengurangi pembuangan akhir dari limbah tersebut, terutama yang berhubungan dengan tingkat konsentrasi maksimum logam berat yang terkandung di dalamnya. Directive tersebut juga menetapkan sejumlah persyaratan pelabelan (jenis bahan-bahan yang perlu diidentifikasi). Council Directive 2000/29/EC tertanggal 8 Mei 2000 tentang upaya-upaya perlindungan terhadap masuknya organisme yang berbahaya bagi tumbuhan atau produk tumbuhan di dalam Komunitas dan melawan persebaran mereka di dalam Komunitas, mengatur bahan-bahan pengemasan dari kayu yang digunakan untuk transportasi, yang dapat juga berlaku untuk kerajinan tangan. Bahan pengemasan dari kayu yang digunakan untuk transportasi perlu mematuhi sejumlah peraturan yang ditujukan untuk mencegah masuknya hama-hama, terutama berkenaan dengan pembuangan kulit batang atau debarking (yang pada umumnya menetapkan bahwa bahan-bahan kayu harus bebas dari kulit batang, pengerjaan dan pemrosesan (treatment, dengan salah satu dari metode yang disetujui Uni Eropa), dan pemberian logo (marking, semua bahan pengemasan dari kayu harus mendapat cap yang menyatakan kepatuhan terhadap persyaratan Uni Eropa).

 
European Rapid Alert System (RAPEX) merupakan suatu sistem notifikasi yang memberitahukan Negara Anggota Uni Eropa mengenai produk-produk yang tidak aman yang masuk ke pasar Uni Eropa, sehingga upaya-upaya dapat diambil untuk menarik atau membatasi penjualan produk tersebut sebelum konsumen Uni Eropa terekspos dengan produk-produk berbahaya tersebut. Kerajinan tangan dapat memiliki bahaya risiko kesehatan pada konsumen, dan oleh karena itu, dapat didaftarkan dalam database RAPEX.
 
Tanggung jawab pelaku bisnis
 
Pelaku bisnis ekspor kerajinan tangan Indonesia menuju pasar Uni Eropa perlu mengetahui berbagai instrumen legislatif yang berlaku terhadap produk-produk yang dimasukkan ke pasar Uni Eropa, yang bertujuan untuk menjaga keamanan dan kesehatan lingkungan hidup dan perlindungan konsumen. Dalam beberapa kasus, pengendalian dilakukan sebelum barang-barang tersebut dapat diimpor atau dimasukkan ke dalam pasar. Dalam kasus ini, sebagai contoh, adalah produk-produk kayu yang harus mengikuti VPA FLEGT antara Uni Eropa dan Indonesia dalam kerangka kerja FLEGT Action Plan. Dalam kasus lain, barang-barang tertentu mungkin harus melalui pengawasan pasca pasar oleh otoritas perlindungan konsumen atau inspektorat lain dari Negara Anggota yang bersangkutan.
 
Ketika mengimpor kerajinan tangan ke Uni Eropa, pelaku bisnis perlu memastikan bahwa kegiatan ekspor mereka telah memenuhi persyaratan dokumen yang berlaku. Kegagalan dalam memenuhi peraturan ini dapat menyebabkan prosedur dan penundaan yang berkepanjangan, karantina atau penolakan di bagian bea cukai. Beberapa persyaratan tersebut mencakup harus memiliki faktur komersial, surat keterangan asal (certificate of origin), lisensi serta tanda terima yang diperlukan. Surat keterangan asal secara khusus berlaku untuk beberapa kerajinan tangan, sampai pada tempat asal yang memberikan beberapa nilai tambah pada produk, dan juga digunakan untuk menentukan bea yang berlaku untuk impor.

Lebih jauh lagi, pelaku bisnis harus memastikan bahwa tindakan mereka mematuhi peraturan dalam:

Peran otoritas yang kompeten
 
Tidak adanya kerangka kerja yang terpadu pada tingkat Uni Eropa untuk kerajinan tangan menyebabkan tidak adanya kerangka kerja yang jelas untuk kewajiban dari otoritas Negara Anggota Uni Eropa kompeten terkait dengan barang-barang tersebut. Akan tetapi, otoritas yang kompeten pada tingkat nasional tetap dibutuhkan untuk mengikuti perkembangan berbagai mekanisme kontrol dan pengawasan pasar Uni Eropa, serta berbagai prosedur yang dapat dimulai oleh instrumen seperti sistem RAPEX untuk proses notifikasi dan penarikan produk-produk berbahaya dari pasar Uni Eropa.
 
Standar sukarela
 
Standar sukarela merupakan dokumen yang ditetapkan berdasarkan konsensus, yang berisi peraturan, pedoman atau karakteristik yang berlaku untuk kegiatan atau hasil-hasil kegiatan tertentu. Standar sukarela ditetapkan dan didukung oleh industri atau sektor terkait (dibandingkan dengan perundang-undangan wajib dalam bentuk peraturan teknis yang diberlakukan untuk tujuan keselamatan dan kesehatan lingkungan hidup serta perlindungan konsumen).
 
Tugas badan-badan internasional seperti International Organisation for Standardisation (ISO) dan
European Committee for Standardisation (CEN) dibahas di bagian lain di situs ini, pada bagian yang membahas produk kayu, kulit, produk pangan, dan lain-lain. European Standards (EN) dibuat oleh semua pihak-pihak berkepentingan melalui proses yang transparan, terbuka, serta berbasis konsensus. Hal tersebut merupakan komponen penting dalam pasar internal Uni Eropa, yang menghasilkan dan memainkan peranan penting dalam fasilitasi perdagangan dan kodifikasi (codifying) praktik terbaik yang ada.
 
Sebagian standar ISO dan CEN yang mungkin berlaku untuk kerajinan tangan, ditujukan untuk produk-produk yang bersentuhan dengan kulit manusia (perhiasan) atau makanan (porselen, keramik, kayu dan barang lain yang ditujukan untuk dekorasi rumah), yang dapat menyebabkan isu-isu keamanan, serta untuk pengemasan produk-produk yang mudah pecah.
 
Perhiasan kostum harus menaati sejumlah persyaratan non-legal, terutama yang terkait dengan isu-isu perlindungan sosial, yang seringkali menjadi fokus perhatian media ketika terdapat praktik perlakuan terhadap buruh yang buruk. Persyaratan sosial dapat ditemukan dalam kode etik perusahaan (codes of conduct), sistem manajemen dan pelabelan:
  • Beberapa peraturan didasarkan pada standar-standar ISO, seperti ISO 26000 yang memberikan panduan tentang bagaimana pelaku bisnis dan organisasi dapat beroperasi dalam cara yang bertanggung jawab terhadap masyarakat. Standar lain, terutama yang terkait dengan aspek-aspek sosial dari produksi barang-barang dikembangkan oleh International Labour Organisation (standar ILO), atau oleh badan lain seperti SA 8000 atau OHSAS 18000, yang bersentuhan dengan isu-isu kondisi, kualitas, kesehatan serta keselamatan kerja, atau akuntabilitas sosial; dan

  • Ethical Trading Initiative yang merupakan suatu kode etis sosial dari Inggris, yang mencoba untuk menjamin kondisi kerja layak pada seluruh rantai persediaan.

Selain itu, terdapat sejumlah persyaratan umum lain dalam industri perhiasan kostum, termasuk:
  • Tidak boleh ada bahan-bahan beracun, kecuali untuk azo dye, yang digunakan untuk mewarnai perhiasan;

  • Fitting, locks dan clasps harus memiliki kualitas yang baik;

  • Potongan-potongan perhiasan kostum harus dirawat untuk mencegah oksidasi;

  • Penutup leher tidak boleh terlalu rapat dan kalung atau anting teruntai tidak boleh terlalu kaku;

  • Instruksi pembeli tentang ukuran dan warna (dinyatakan dalam bentuk sistem warna Pantone), harus diikuti dengan sama persis oleh eksportir;

  • Proses penyelesaian atau finishing perhiasan harus seakurat mungkin;

  • Kualitas produksi harus menyamai kualitas sampel pertama; dan

  • Negara asal harus menjelaskan, terutama ketika terkait dengan pasokan perhiasan ke department stores, mengenai rantai persediaan pakaian atau aksesori.

Untuk produk dekorasi, termasuk keramik dan porselen, produk anyaman dan keranjang, bahan-bahan kayu dan logam, terdapat sejumlah standar CEN relevan yang berlaku. Kebanyakan standar tersebut berfokus pada kualitas produk keramik dan kaca yang bersentuhan langsung dengan makanan, seperti yang ditampilkan dalam tabel berikut:

STANDARD  
CEN/TC 194 Peralatan yang bersentuhan langsung dengan makanan
EN 1217:1997 Material dan bahan-bahan yang bersentuhan dengan produk makanan - Metode pengujian untuk penyerapan air pada bahan-bahan keramik
EN 12875-5:2006 Daya tahan pencucian mekanis pada peralatan - Bagian 5: Metode uji cepat (rapid test) untuk bahan-bahan katering keramik
EN 1184:1997 Material dan bahan-bahan yang bersentuhan dengan produk makanan - Metode pengujian untuk sifat tembus cahaya (translucency) pada bahan-bahan keramik
EN 1388-1:1995 Material dan bahan-bahan yang bersentuhan dengan produk pangan- permukaan silikat - Bagian 1: Penentuan pelepasan timbal dan kadmium dari barang-barang keramik
EN 1388-2:1995 Material dan bahan-bahan yang bersentuhan dengan produk pangan - permukaan silikat - Bagian 2: Penentuan pelepasan timbal dan kadmium dari permukaan silikat selain dari barang-barang keramik
EN 12875-4:2006 Daya tahan pencucian piring mekanis pada peralatan - Bagian 4: Metode uji cepat (rapid test) untuk bahan-bahan keramik domestik
EN 15284:2007 Material dan bahan-bahan yang bersentuhan dengan produk pangan - Metode pengujian untuk daya tahan terhadap pemanasan microwave pada peralatan masak keramik, kaca, kaca-keramik atau plastik
EN 13258:2003 Material dan bahan-bahan yang bersentuhan dengan produk pangan - Metode pengujian untuk crazing resistance pada bahan-bahan keramik
 Sumber: European Committee for Standardisation (CEN), 2013.
 
Pengemasan merupakan aspek yang penting dalam perdagangan keramik dan porselen, serta untuk bahan-bahan anyaman dan kayu, dan sebagian besar upaya dalam bidang ini dikerahkan untuk memastikan bahwa kemasan tersebut cukup aman dan dapat mengurangi risiko pecah dan kerusakan. Terdapat sejumlah standar-standar yang diberlakukan untuk memastikan proses pengemasan tersebut memenuhi seluruh fungsi-fungsinya dalam suatu cara yang efektif, efisien, aman serta ramah konsumen. Secara sederhana, dan karena sifat mereka yang mudah pecah dan rusak, keramik dan porselen serta produk anyaman harus dikemas dengan excelsior (wol kayu), bubble wrap atau pemisah (dividers), serta butiran untuk kemasan (pellets). Terdapat suatu rekomendasi yang menyarankan untuk mengemas produk-produk tersebut dalam kotak corrugated dalam ukuran dan berat yang memudahkan penanganannya (biasanya tidak lebih dari 25 kg per karton). Sebagai tambahan, kebanyakan distributor Uni Eropa mengandalkan pengemasan untuk tujuan promosi produk, sebegitu pentingnya sehingga pengemasan seringkali mencerminkan desain, citra, kualitas dan harga dari produk yang dikonsumsi.
 
CEN juga menjelaskan sejumlah standar yang bersentuhan dengan pengemasan barang, kebanyakan memiliki standar yang serupa dalam ISO. Tabel di bawah memberikan gambaran singkat mengenai standar-standar tersebut, dengan nomor standar (kolom kiri) dan judul (kolom kanan):
 
STANDARD  
CEN/TC 261 Pengemasan
EN 22206:1992 Kemasan – Lengkap, paket transportasi penuh – Identifikasi bagian saat pengujian (ISO 2206:1987)
EN 22248:1992 Kemasan – Lengkap, paket transportasi penuh – Uji dampak vertikal dengan menjatuhkan (ISO 2248:1985)
EN 22876:1992 Kemasan – Lengkap, paket transportasi penuh – Uji gelinding (rolling test) (ISO 2876:1985)
EN 27023:1992 Kemasan – Karung – Metode pengambilan sampel karung kosong untuk pengujian (ISO 7023:1983)
EN 26590-1:1992 Kemasan – Karung – Kosakata dan jenis – Bagian 1: Karung kertas (ISO 6590-1:1983)
EN 26590-2:1992 Kemasan – Karung – Kosakata dan jenis – Bagian 2: Karung dari lapisan fleksibel termoplastik (ISO 6590-2:1986)
EN 14182:2002 Kemasan – Terminologi – Istilah dasar dan definisi
EN ISO 128752244:2002 Kemasan – Lengkap, paket transportasi penuh dan beban unit – Uji dampak horizontal (ISO 2244:2000)
EN  ISO 128752244:2002 Kemasan – Lengkap, paket transportasi penuh dan beban unit – Uji semprotan air (water-spray) (ISO 2875:2000)
EN 13246:2001 Kemasan – Spesifikasi untuk baja tensional steel strapping
EN 13393:2001 Kemasan - Spesifikasi untuk pelindung pinggiran (edge protector)
EN 13394:2001 Kemasan - Spesifikasi untuk tensional strapping non logam
EN 13193:2000 Kemasan – Kemasan dan lingkungan hidup – Terminologi
EN 14054:2003 Kemasan – Kemasan kertas dan karton – Desain karton
EN 13046:2000 Kemasan – Tabung logamsilinder fleksibel – Dimensi dan toleransi
EN 13047:2000 Kemasan – Tabung logam kerucut fleksibel – Dimensi dan toleransi
EN ISO 8351-1:1996 Kemasan – Metode spesifikasi untuk karung – Bagian 1: Karung kertas (ISO 8351-1:1994)
ISO 8351-2:1996 Kemasan – Metode spesifikasi untuk karung – Bagian 2: Karung dari lapisan fleksibel termoplastik (ISO 8351-2:1994)
EN 14479:2004 Kemasan – Bahan kemasan fleksibel – Penentuan larutan sisa dengan kromatografi gas headspace dinamis – Metode absolut
EN 13440:2003 Kemasan – Tingkat daur ulang – Definisi dan metode perhitungan
EN 14047:2002 Kemasan – Penentuan biodegradabilitas aerobik akhir pada bahan kemasan dalam suatu medium cair – Metode analisis karbon dioksida yang sudah berubah (evolved)
EN 13432:2000 Kemasan – Persyaratan pemulihan kemasan melalui kompos dan biodegradasi – Skema pengujian dan kriteria evaluasi untuk penerimaan kemasan akhir
EN 1419:2003 Kemasan – Lengkap, paket transportasi penuh dan beban unit – Uji dampak dengan jatuh berotasi (rotational drop)
EN ISO 780:1999 Kemasan – Tanda gambar untuk penanganan barang (ISO 780:1997)
EN 13628-2:2002 Kemasan – Bahan kemasan fleksibel – Penentuan larutan sisa dengan kromatografi gas headspace statis – Bagian 2: Metode industri
EN 14477:2004 Kemasan – Bahan kemasan fleksibel – Penentuan daya tahan tusuk (puncture test) – Metode pengujian
EN ISO 13355:2003 Kemasan – Lengkap, paket transportasi penuh dan beban unit – Uji getar acak vertikal (ISO 13355:2001)
EN ISO 2233:2001 Kemasan – Lengkap, paket transportasi penuh dan beban unit – Kondisi untuk pengujian (ISO 2233:2000)
EN ISO 16103:2005 Kemasan – Paket transportasi untuk barang-barang berbahaya – Bahan plastik daur ulang (ISO 16103:2005)
EN 14798:2005 Kemasan kaca – Pembuka botol crown jenis genggam – Dimensi
EN ISO 8317:2004 Kemasan yang tahan terhadap anak – Persyaratan dan prosedur pengujian untk paket yang dapat ditutup ulang (recloseable) (ISO 8317:2003)
EN ISO 21898:2005 Kemasan – Penampung curah menengah fleksibel (FIBC) untuk barang-barang yang tidak berbahaya (ISO 21898:2004)
EN 15386:2007 Kemasan – Tabung plastik dan laminate fleksibel – Metode pengujian untuk menentukan print adhesion
EN 12374:2009 Kemasan – Tabung fleksibel – Terminologi
EN 12375:2009 Kemasan – Tabung aluminium fleksibel – Metode penentuan ketebalan dinding tabung
EN 13045:2009 Kemasan – Tabung plastik silinder fleksibel – Dimensi dan toleransi
EN 13461:2009 Kemasan – Tabung laminate kerucut fleksibel – Dimensi dan toleransi
EN 15766:2009 Kemasan – Tabung aluminium fleksibel – Metode pengujian untuk menentukan polimerisasi lapisan coating internal dengan aseton
ISO 20848-1:2008 Kemasan – Drum plastik – Bagian 1: Drum dengan tutup yang dapat dibuka (open head) dengan kapasitas normal sebesar 113,6 l hingga 220 l (ISO 20848-1:2006)
ISO 20484-2:2008 Kemasan – Drum plastik – Bagian 2: Drum dengan tutup yang tidak dapat dibuka (tight head) dengan kapasitas normal sebesar 208,2 l dan  220 l (ISO 20484-2:2006)
 Sumber: European Committee for Standardisation (CEN), 2013.
 
Pelabelan produk keramik dan porselen (diantara produk lain) sangat penting, dan disarankan untuk memberi label peringatan pada seluruh kotak, seperti “Fragile” atau “Handle with care”. Sebagai tambahan, simbol-simbol umum digunakan untuk mengindikasikan kualitas produk. Secara khusus, barang-barang keramik dan porselen harus ditandai dengan suatu indikasi apakah mesin pencuci piring dan/atau mesin microwave dapat digunakan secara aman untuk produk tersebut.
 
Untuk perlindungan terhadap lingkungan hidup, barang keramik dan porselen, serta bahan-bahan anyaman dan kayu dapat mengenakan eco-label, yang merupakan suatu proses sertifikasi sukarela untuk menunjukkan bahwa produk tersebut memiliki dampak lingkungan hidup yang lebih kecil selama daur hidupnya. Terdapat suatu eco label di tingkat Uni Eropa (EU-wide eco-label) yang berlaku dengan serangkaian eco label di berbagai Negara Anggota Uni Eropa.









Berita terbaru
  • TSP2 Launch Event
    22/03/2013
    Kementerian Perdagangan Republik Indonesia dan Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Brunei Darussalam dan ASEAN akan meluncurkan program Trade Support Programme 2 pada tanggal 9 April 2013, di Hotel Le Meridien Jakarta. Acara ini akan menampilkan pidato kunci oleh Menteri Perdagangan, yang terhormat Bapak Gita Wirjawan. Pada acara tersebut akan dipresentasikan juga sistem INATRIMS.
  • EQI Studi TSP2 dapat diunduh
    21/10/2012
    Anda dapat mengunduh studi INDONESIA'S EXPORT QUALITY INFRASTRUCTURE pada Publikasi Export di website ini.
  • Market Access Study TSP2 dapat diunduh
    20/10/2012
    Anda dapat mengunduh studi TRADE ACCESS TO THE EUROPEAN UNION: OPPORTUNITIES AND CHALLENGES (laporan utama, rekomendasi dan sektor-sektor utama pada Perikanan, Makanan, Elektronik dan Kosmetik dari bahan alam) pada Publikasi Ekspor di website ini.